SALINITAS SAMUDERA HINDIA
PENYEBAB TINGKAT SALINITAS BERBAGAI LAUT
DAN SAMUDERA HINDIA
Salinitas adalah banyaknya kadar garam (dalam gram)
yang terdapat dalam setiap 1 kg air laut. Salinitas permukaan air laut di
khatulistiwa mencapai 3,50/00 (permil atau
perseribu). Hal ini disebabkan adanya penguapan yang tinggi diimbangi dengan
curah hujan yang tinggi pula. Salinitas di daerah garis balik utara-selatan
(subtropika) lebih tinggi, yaitu mencapai 370/00 karena
penguapan yang terjadi tidak diimbangi dengan curah hujan tinggi. Adapun di
daerah laut yang tertutup dari arus bebas, seperti Laut Tengah dan Laut Merah
mencapai 400/00. (Yusman Hestiyanto. Geografi
SMA Kelas X. Yudistira,2006. Hlm146).
Salinitas adalah banyaknya kadar garam (dalam gram) yang
terdapat dalam setiap 1 kg air laut.Kandungan garam pada sebagian besar danau, sungai, dan
saluran air alami sangat kecil sehingga air di tempat ini dikategorikan
sebagai air tawar.
Kandungan garam sebenarnya pada air ini, secara definisi, kurang dari 0,05%.
Jika lebih dari itu, air dikategorikan sebagai air payau atau
menjadi saline bila konsentrasinya 3 sampai 5%. Lebih dari 5%,
ia disebut brine.
|
Salinitas
air berdasarkan persentase garam terlarut
|
|||
|
<
0,05 %
|
0,05—3 %
|
3—5 %
|
>5 %
|
Air laut secara alami merupakan air saline dengan
kandungan garam sekitar 3,5%. Beberapa danau garam di
daratan dan beberapa lautan memiliki kadar garam lebih tinggi dari air laut
umumnya. Sebagai contoh, Laut Mati memiliki kadar garam sekitar
30%.
Istilah teknik untuk keasinan lautan adalah halinitas,
dengan didasarkan bahwa halida-halida (terutama klorida)
adalah anion yang
paling banyak dari elemen-elemen terlarut. Dalamoseanografi,
halinitas biasa dinyatakan bukan dalam persen tetapi dalam “bagian perseribu” (parts
per thousand , ppt) atau permil (‰), kira-kira sama dengan jumlah gram
garam untuk setiap liter larutan.
Sebelum tahun 1978, salinitas atau halinitas dinyatakan
sebagai ‰ dengan didasarkan pada rasio konduktivitas elektrik sampel
terhadap "Copenhagen water", air laut buatan yang
digunakan sebagai standar air laut dunia. Pada 1978, oseanografer
meredifinisikan salinitas dalam Practical Salinity Units (psu,
Unit Salinitas Praktis): rasio konduktivitas sampel air laut terhadap larutan
KCL standar. Rasio tidak memiliki unit, sehingga tidak bisa dinyatakan bahwa 35
psu sama dengan 35 gram garam per liter larutan.
Air laut sendiri banyak mengandung zat-zat yang teralut di
dalamnya yang merupakan sumber dari beberapa zat kimia penting dan ini adalah
salah satu sumber alam yang pertama kali dikelola oleh manusia. Sodium klorida
(NaCl), adalah ekstrak yang paling besar yang biasanya dipergunakan pada
perusahaan-perusahaan kimia dalam memproduksi klorida dan sodium hidroksida.
Magnesium dan bromin adalah bahan lain yang terdapat dalam air laut yang
mempunyai nilai ekonomi tinggi. (Sahala Hutabarat. Pengantar
Oseanografi. Jakarta:Penerbit Universitas Indonesia,2008.Hlm 8).
Kandungan unsur kimia paling besar dalam air laut selain air
adalah Natrium Chlorida (NaCl) atau garam. Setiap 1 kilometer kubik air laut
mengandung sekitar 969 juta ton oksigen, 122 juta ton hydrogen, 21 juta ton
khlor, dan 12 juta ton natrium.
Ternyata tidak semua air laut memiliki tingkat keasinan yang
sama. Perairan di Atlantik, misalnya, mengandung kadar garam yang jauh lebih
tinggi ketimbang perairan yang mengelilingi Indonesia. Perbedaan
salinitas air laut disebabkan oleh banyak sedikitnya penguapan yang terjadi.
Penguapan dapat menambah besarnya salinitas, makin besar penguapan makin besar
pula salinitasnya. Banyak sedikitnya hujan juga dapat mempengaruhi tingkat
salinitas. Dan terakhir adalah banyak sedikitnya sungai yang bermuara ke laut
tersebut. Masuknya air tawar dari sungai menyebabkan salinitas menjadi
rendah. (Munawir,S.Pd. dkk.Cakrawala
Geografi 3. Yudistira,2005. Hlm 111).
Perbedaan itu bisa dilihat dalam peta tingkat salinitas
buatan badan antariksa Amerika (NASA). Inilah peta pertama tentang salinitas
laut. Fungsinya untuk membantu manusia memahami berbagai hal, mulai curah hujan
global sampai arus laut. Peta tersebut dihasilkan oleh Aquarius/SAC-D, sebuah
satelit pengorbit bumi yang dilengkapi dengan pengukuran radio khusus. Seluruh
foto yang dikirim Aquarius selama dua pekan pertama bekerja itu lantas disusun
menjadi peta bola dunia yang mudah dipahami.
Gambar
1. Peta salinitas buatan NASA
Peta NASA ini memperlihatkan kadar garam di seluruh samudra
yang dibedakan dengan intensitas warna. Daerah yang berwarna merah dan kuning
memiliki tingkat salinitas yang lebih tinggi, sedangkan yang berwarna biru dan
ungu mempunyai kadar garam lebih rendah. Wilayah gelap menandai kekosongan
data.
Dengan data tersebut, peneliti memperoleh gambaran yang
lebih terperinci tentang pola iklim seperti bagaimana pergerakan air tawar
mengelilingi dunia. Gerakan air tawar itu ternyata juga mempengaruhi sirkulasi
laut.
Peta ini hanya sebagian kecil dari hasil pengukuran satelit
yang diluncurkan pada Juni lalu, dan mulai beroperasi pada 25 Agustus. Pada
masa mendatang, satelit itu diharapkan akan mengungkap lebih banyak rahasia
samudra. (http://www.tempo.co/read/news/2011/09/28diakses
tanggal 29 juni2012).
Instrumen Satelite de Aplicaciones Cientificas (SAC)
yang mengumpulkan data dan gambar persebaran garam dan tingkat keasinan dari
berbagai laut dan samudera di seluruh dunia. Satelit yang diluncurkan pada 10
Juni 2011 lalu itu mendapatkan data bahwa samudera Atlantik lebih asin dari
samudera Pasifik dan samudera Hindia. Hal itu juga menunjukkan bahwa
sungai-sungai terpanjang di dunia seperti sungai Nil membawa lebih banyak air
tawar dari darat menuju laut.
Salinitas air
tertinggi terdapat di daerah laut subtropis yang terletak di lintang 200 Lu
dan 200 LS, kemudian menurun kembali pada daerah lintang
tinggi. Di daerah katulistiwa salinitasnya rendah karena curah hujan di daerah
ekuator tinggi. Laut Mediterania mempunyai suhu 11,5
derajat C dan mempunyai nilai salinitasnya > 36,5 per mil, suhu berkisar 10
derajat C dan salinitasnya < 36 per mil. Sehingga kepadatan Samudera
Atlantik lebih rendah dari laut Laut Mediterania. (Ibrahim,I.A. A Brief
Illustrated Guide to Understanding Islam.Darussalam, 1997).
Laut Mediterania atau dikenal juga Laut Tengah mempunyai
salinitas, kepadatan air dan suhu yang lebih tinggi dibandingkan Lautan Atlantik. Kenapa
demikian karena adanya lapisan yang memisahkan air di selat gilbaltar yang
mempunyai salinitas yang berbeda ketika air dari Laut Tengah memasuki
Lautan Atlantik melalui Selat Jibraltar. Sehingga hanya air permukaan laut
tengah saja yang bercampur dengan air Samudera Atlantik.
Setelah mencapai Atlantik air ini mengalir sampai di
kedalaman sekitar seribu meter dengan membawa sifatnya sendiri yang suhunya,
salinitas dan kepadatannya yang lebih tinggi. Pada kedalaman ini air dari Laut
Tengah tersebut diam tidak bergerak. Salinitas air tertinggi terdapat di
laut yang terletak di lintang 200 Lu dan 200 LS,
kemudian menurun kembali pada daerah lintang tinggi. Di daerah katulistiwa
salinitasnya rendah karena curah hujan di daerah ekuator tinggi. Besar kecilnya salinitas sangat dipengaruhi oleh Bentang
Laut dan Iklim.
Bentang laut yang tertutup biasanya memiliki salinitas yang
tinggi karena tidak mudah tercampur dengan air laut atau air tawar
lainnya. Contohnya di
Laut Hitam, Laut Tengah, Laut Kaspia, dan Laut Mati. Daerah yang beriklim sub tropis memiliki salinitas yang
tinggi. Hal ini disebabkan di daerah sub tropis curah hujan tidak terlalu
tinggi sedangkan penguapan relatif tinggi karena sedikitnya awan.
Di daerah tropis hujannya lebih lebat daripada daerah yang
berada di lintang tinggi. (Tjasyono HK, Bayong. Klimatologi Edisi kedua.
Bandung:Penerbit ITB, 2004. Hlm 18).
Hal ini disebabkan di daerah sub tropis curah hujan tidak
terlalu tinggi sedangkan penguapan relatif tinggi karena sedikitnya awan.
Sehingga lautan yang secara keseluruhan berada di daerah khatulistiwa mempunyai
salinitas yang terbilang rendah daripada daripada daerah kutub. Seperti
misalnya Samudera Hindia yang memilki salinitas yang terendah ketimbang
Samudera lainnya.
Perbedaan yang amat kontras terlihat di Laut Arab yang
kering dan memiliki salinitas tinggi di sebelah barat subkontinen India dengan
Teluk Bengal bersalinitas rendah di sebelah timurnya yang didominasi oleh
Sungai Gangga dan hujan monsoon Asia Selatan.
Salinitas di daerah subpolar (yaitu daerah di atas daerah
subtropis hingga mendekati kutub) rendah di permukaan dan bertambah secara
tetap (monotonik) terhadap kedalaman. Di daerah subtropis (atau semi tropis,
yaitu daerah antara 23,5o - 40oLU atau 23,5o -
40oLS), salinitas di permukaan lebih besar daripada di kedalaman
akibat besarnya evaporasi (penguapan). Di kedalaman sekitar 500 sampai 1000
meter harga salinitasnya rendah dan kembali bertambah secara monotonik terhadap
kedalaman. Sementara itu, di daerah tropis salinitas di permukaan lebih rendah
daripada di kedalaman akibatnya tingginya presipitasi (curah hujan).
Salinitas
Salinitas air laut di
Selat Sunda (St.9) dan Samudera Hindia (St.2 dan
St.5) pada bulan
Februari - Maret 2012 menunjukkan nilai yang beragam. Di lapisan
permukaan bervariasi antara
30,96 psu (di St.
Selat Sunda/St.9) sampai dengan 35,48
psu (di St. Samudera/ St.2 dan St.5).
Distribusi nilai salinitas
di suatu perairan
dipengaruhi oleh penguapan,
jumlah air tawar
yang masuk ke perairan tersebut, run
off atau aliran permukaan, pasang surut air laut, curah hujan, dan musim
(BOWDEN, 1980). Secara umum distribusi salinitas di lapisan tercampur permukaan
atau mixed layer menunjukkan nilai relatif lebih rendah dari pada di lapisan
dalam sedangkan nilai rata-rata salinitas di setiap lapisan kedalaman dari
permukaan, lapisan kedalaman 100 m, lapisan 500 m, hingga lapisan 1000 m,
berturut turut adalah 34,98 psu; 35,02 psu; 34,81psu; dan 34,09 psu. lapisan mixed
layer yaitu lapisan permukaan di Stasiun Selat (St.9) hingga kedalaman 75 m sedangkan di Stasiun Samudera (St.2 dan
St.5) masing-masing hingga kedalaman 100 m dan 190 m, salinitas menunjukkan nilai yang lebih
rendah dari pada lapisan dibawahnya. Makin ke lapisan dalam, salinitas air laut makin tinggi
dan salinitas maksimum terlihat pada lapisan > 250 m di St. 2 dan > 300 m
di St.5. Terlihat pula semakin jauh dari daratan (open ocean), semakin
dalam lapisan mixed
layernya (mixed layer
di St 2 dan St.
5 lebih dalam dibandingkan di St.9). Begitu juga
dengan nilai salinitas, semakin jauh dari daratan (open ocean), nilai salitas
semakin besar (diatas 34 psu).
Pertemuan
Laut dan Sungai di Muara/Estuari (Air asin dan Air tawar)
Sedangkan fenomena bertemunya air sungai yang tawar dengan
air laut yang asin di muara, difirmankan-Nya, dalam Q. S. Al Furqan: “Dan
Dialah yang membiarkan dua laut yang mengalir (berdampingan); yang ini tawar
lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya
dinding dan batas yang menghalangi“ (Q. S. 25:53).
Dalam redaksionalnya, Allah menggunakan kata yang berbeda
yaitu adanya dinding dan batas yang menghalangi. Ternyata ada sedikit
perbedaan prinsip di zona pertemuan air laut dan air tawar ini bila
dibandingkan dengan pertemuan dua lautan yang berbeda salinitasnya tersebut di
atas.
Mengapa Al Qur’an menyebut “penghalang” ketika berbicara
mengenai pemisah antara air tawar dan air asin, tetapi tidak menyebutkan hal
itu ketika berbicara mengenai pemisah kedua air laut? Para ilmuwan
oseanografi menjelaskan bahwa di muara, tempat bertemunya air tawar (segar)
dengan air asin, ditemukan situasi yang berbeda dengan yang terdapat pada
tempat bertemunya dua air laut. Penemuan menunjukkan bahwa yang memisahkan air
tawar dari air laut di muara adalah zona Pycnocline yang
ditandai oleh adanya perbedaan salinitas dan kepadatan yang bertahap dan jelas
memisahkan kedua lapisan air tersebut. Pycnocline adalah layer/lapisan
yang memisahkan air yang mempunyai kepadatan yang berbeda .
Gambar 2. Perubahan salinitas pada penghalang (zona pemisah) antara air tawar dan air
laut
Penghalang (zona pemisah) ini
memiliki tingkat kepadatan dan keasinan yang berbeda dari air tawar ke air laut
dan sebaliknya. Seperti kita ketahui, bahwa air tawar bertemu air asin melalui
beberapa tahapan perubahan, dari air tawar berubah payau hingga kemudian air
laut yang asin. (http://faiqun.edublogs.org/2012/01/30/fenomena-salinitas-air-dalam-al-quran diakses
tanggal 25 juni 2012)
DAFTAR PUSTAKA
Hestiyanto,Yusman. Geografi
SMA Kelas X. Jakarta:Yudistira,2006.
Hutabarat,Sahala dan
M.Evans,Stewart. Pengantar Oseanografi. Jakarta:Penerbit
Universitas
Indonesia,2008.
Munawir,S.Pd. dkk. Cakrawala
Geografi 3. Jakarta: Yudistira,2005.
Ibrahim,I.A. A Brief
Illustrated Guide to Understanding Islam. Texas-USA:Darussalam, 1997.
Tjasyono HK, Bayong. Klimatologi
Edisi kedua. Bandung:Penerbit ITB, 2004.

