Minggu, 16 Juni 2019

SALINITAS SAMUDERA HINDIA

SALINITAS SAMUDERA HINDIA

PENYEBAB TINGKAT SALINITAS BERBAGAI LAUT
DAN SAMUDERA HINDIA

Salinitas adalah banyaknya kadar garam (dalam gram) yang terdapat dalam setiap 1 kg air laut. Salinitas permukaan air laut di khatulistiwa mencapai 3,50/00 (permil atau perseribu). Hal ini disebabkan adanya penguapan yang tinggi diimbangi dengan curah hujan yang tinggi pula. Salinitas di daerah garis balik utara-selatan (subtropika) lebih tinggi, yaitu mencapai 370/00 karena penguapan yang terjadi tidak diimbangi dengan curah hujan tinggi. Adapun di daerah laut yang tertutup dari arus bebas, seperti Laut Tengah dan Laut Merah mencapai 400/00. (Yusman Hestiyanto. Geografi SMA Kelas X. Yudistira,2006. Hlm146).
Salinitas adalah banyaknya kadar garam (dalam gram) yang terdapat dalam setiap 1 kg air laut.Kandungan garam pada sebagian besar danausungai, dan saluran air alami sangat kecil sehingga air di tempat ini dikategorikan sebagai air tawar. Kandungan garam sebenarnya pada air ini, secara definisi, kurang dari 0,05%. Jika lebih dari itu, air dikategorikan sebagai air payau atau menjadi saline bila konsentrasinya 3 sampai 5%. Lebih dari 5%, ia disebut brine.

Salinitas air berdasarkan persentase garam terlarut
< 0,05 %
0,05—3 %
3—5 %
>5 %
Air laut secara alami merupakan air saline dengan kandungan garam sekitar 3,5%. Beberapa danau garam di daratan dan beberapa lautan memiliki kadar garam lebih tinggi dari air laut umumnya. Sebagai contoh, Laut Mati memiliki kadar garam sekitar 30%.
Istilah teknik untuk keasinan lautan adalah halinitas, dengan didasarkan bahwa halida-halida (terutama klorida) adalah anion yang paling banyak dari elemen-elemen terlarut. Dalamoseanografi, halinitas biasa dinyatakan bukan dalam persen tetapi dalam “bagian perseribu” (parts per thousand , ppt) atau permil (‰), kira-kira sama dengan jumlah gram garam untuk setiap liter larutan.
Sebelum tahun 1978, salinitas atau halinitas dinyatakan sebagai ‰ dengan didasarkan pada rasio konduktivitas elektrik sampel terhadap "Copenhagen water", air laut buatan yang digunakan sebagai standar air laut dunia. Pada 1978, oseanografer meredifinisikan salinitas dalam Practical Salinity Units (psu, Unit Salinitas Praktis): rasio konduktivitas sampel air laut terhadap larutan KCL standar. Rasio tidak memiliki unit, sehingga tidak bisa dinyatakan bahwa 35 psu sama dengan 35 gram garam per liter larutan.

Air laut sendiri banyak mengandung zat-zat yang teralut di dalamnya yang merupakan sumber dari beberapa zat kimia penting dan ini adalah salah satu sumber alam yang pertama kali dikelola oleh manusia. Sodium klorida (NaCl), adalah ekstrak yang paling besar yang biasanya dipergunakan pada perusahaan-perusahaan kimia dalam memproduksi klorida dan sodium hidroksida. Magnesium dan bromin adalah bahan lain yang terdapat dalam air laut yang mempunyai nilai ekonomi tinggi. (Sahala Hutabarat. Pengantar Oseanografi. Jakarta:Penerbit Universitas Indonesia,2008.Hlm 8).
Kandungan unsur kimia paling besar dalam air laut selain air adalah Natrium Chlorida (NaCl) atau garam. Setiap 1 kilometer kubik air laut mengandung sekitar 969 juta ton oksigen, 122 juta ton hydrogen, 21 juta ton khlor, dan 12 juta ton natrium.
Ternyata tidak semua air laut memiliki tingkat keasinan yang sama. Perairan di Atlantik, misalnya, mengandung kadar garam yang jauh lebih tinggi ketimbang perairan yang mengelilingi Indonesia. Perbedaan salinitas air laut disebabkan oleh banyak sedikitnya penguapan yang terjadi. Penguapan dapat menambah besarnya salinitas, makin besar penguapan makin besar pula salinitasnya. Banyak sedikitnya hujan juga dapat mempengaruhi tingkat salinitas. Dan terakhir adalah banyak sedikitnya sungai yang bermuara ke laut tersebut. Masuknya air tawar dari sungai menyebabkan salinitas menjadi rendah. (Munawir,S.Pd. dkk.Cakrawala Geografi 3. Yudistira,2005. Hlm 111).
Perbedaan itu bisa dilihat dalam peta tingkat salinitas buatan badan antariksa Amerika (NASA). Inilah peta pertama tentang salinitas laut. Fungsinya untuk membantu manusia memahami berbagai hal, mulai curah hujan global sampai arus laut. Peta tersebut dihasilkan oleh Aquarius/SAC-D, sebuah satelit pengorbit bumi yang dilengkapi dengan pengukuran radio khusus. Seluruh foto yang dikirim Aquarius selama dua pekan pertama bekerja itu lantas disusun menjadi peta bola dunia yang mudah dipahami.

Gambar 1. Peta salinitas buatan NASA
Peta NASA ini memperlihatkan kadar garam di seluruh samudra yang dibedakan dengan intensitas warna. Daerah yang berwarna merah dan kuning memiliki tingkat salinitas yang lebih tinggi, sedangkan yang berwarna biru dan ungu mempunyai kadar garam lebih rendah. Wilayah gelap menandai kekosongan data.
Dengan data tersebut, peneliti memperoleh gambaran yang lebih terperinci tentang pola iklim seperti bagaimana pergerakan air tawar mengelilingi dunia. Gerakan air tawar itu ternyata juga mempengaruhi sirkulasi laut.
Peta ini hanya sebagian kecil dari hasil pengukuran satelit yang diluncurkan pada Juni lalu, dan mulai beroperasi pada 25 Agustus. Pada masa mendatang, satelit itu diharapkan akan mengungkap lebih banyak rahasia samudra. (http://www.tempo.co/read/news/2011/09/28diakses tanggal 29 juni2012).
Instrumen Satelite de Aplicaciones Cientificas (SAC) yang mengumpulkan data dan gambar persebaran garam dan tingkat keasinan dari berbagai laut dan samudera di seluruh dunia. Satelit yang diluncurkan pada 10 Juni 2011 lalu itu mendapatkan data bahwa samudera Atlantik lebih asin dari samudera Pasifik dan samudera Hindia. Hal itu juga menunjukkan bahwa sungai-sungai terpanjang di dunia seperti sungai Nil membawa lebih banyak air tawar dari darat menuju laut.
                Salinitas air tertinggi terdapat di daerah laut subtropis yang terletak di lintang 200 Lu dan 200 LS, kemudian menurun kembali pada daerah lintang tinggi. Di daerah katulistiwa salinitasnya rendah karena curah hujan di daerah ekuator tinggi. Laut Mediterania mempunyai suhu 11,5 derajat C dan mempunyai nilai salinitasnya > 36,5 per mil, suhu berkisar 10 derajat C dan salinitasnya < 36 per mil. Sehingga kepadatan Samudera Atlantik lebih rendah dari laut Laut Mediterania. (Ibrahim,I.A. A Brief Illustrated Guide to Understanding Islam.Darussalam, 1997).
Laut Mediterania atau dikenal juga Laut Tengah mempunyai salinitas, kepadatan air dan suhu yang lebih tinggi dibandingkan Lautan Atlantik. Kenapa demikian karena adanya lapisan yang memisahkan air di selat gilbaltar yang mempunyai salinitas yang berbeda ketika air dari Laut Tengah memasuki Lautan Atlantik melalui Selat Jibraltar. Sehingga hanya air permukaan laut tengah saja yang bercampur dengan air Samudera Atlantik.
Setelah mencapai Atlantik air ini mengalir sampai di kedalaman sekitar seribu meter dengan membawa sifatnya sendiri yang suhunya, salinitas dan kepadatannya yang lebih tinggi. Pada kedalaman ini air dari Laut Tengah tersebut diam tidak bergerak. Salinitas air tertinggi terdapat di laut yang terletak di lintang 200 Lu dan 200 LS, kemudian menurun kembali pada daerah lintang tinggi. Di daerah katulistiwa salinitasnya rendah karena curah hujan di daerah ekuator tinggi. Besar kecilnya salinitas sangat dipengaruhi oleh Bentang Laut dan Iklim.
Bentang laut yang tertutup biasanya memiliki salinitas yang tinggi karena tidak mudah tercampur dengan air laut atau air tawar lainnya. Contohnya di Laut Hitam, Laut Tengah, Laut Kaspia, dan Laut Mati. Daerah yang beriklim sub tropis memiliki salinitas yang tinggi. Hal ini disebabkan di daerah sub tropis curah hujan tidak terlalu tinggi sedangkan penguapan relatif tinggi karena sedikitnya awan.
Di daerah tropis hujannya lebih lebat daripada daerah yang berada di lintang tinggi. (Tjasyono HK, Bayong. Klimatologi Edisi kedua. Bandung:Penerbit ITB, 2004. Hlm 18).
Hal ini disebabkan di daerah sub tropis curah hujan tidak terlalu tinggi sedangkan penguapan relatif tinggi karena sedikitnya awan. Sehingga lautan yang secara keseluruhan berada di daerah khatulistiwa mempunyai salinitas yang terbilang rendah daripada daripada daerah kutub. Seperti misalnya Samudera Hindia yang memilki salinitas yang terendah ketimbang Samudera lainnya.
Perbedaan yang amat kontras terlihat di Laut Arab yang kering dan memiliki salinitas tinggi di sebelah barat subkontinen India dengan Teluk Bengal bersalinitas rendah di sebelah timurnya yang didominasi oleh Sungai Gangga dan hujan monsoon Asia Selatan.
Salinitas di daerah subpolar (yaitu daerah di atas daerah subtropis hingga mendekati kutub) rendah di permukaan dan bertambah secara tetap (monotonik) terhadap kedalaman. Di daerah subtropis (atau semi tropis, yaitu daerah antara 23,5o - 40oLU atau 23,5o - 40oLS), salinitas di permukaan lebih besar daripada di kedalaman akibat besarnya evaporasi (penguapan). Di kedalaman sekitar 500 sampai 1000 meter harga salinitasnya rendah dan kembali bertambah secara monotonik terhadap kedalaman. Sementara itu, di daerah tropis salinitas di permukaan lebih rendah daripada di kedalaman akibatnya tingginya presipitasi (curah hujan).

Salinitas

Salinitas air  laut di Selat  Sunda (St.9) dan  Samudera Hindia  (St.2 dan  St.5) pada  bulan
Februari - Maret 2012 menunjukkan nilai yang beragam. Di lapisan permukaan bervariasi antara
30,96 psu  (di St. Selat  Sunda/St.9) sampai dengan 35,48 psu  (di St. Samudera/ St.2 dan St.5).
Distribusi  nilai  salinitas  di  suatu  perairan  dipengaruhi  oleh  penguapan,  jumlah  air  tawar  yang  masuk ke perairan tersebut, run off atau aliran permukaan, pasang surut air laut, curah hujan, dan musim (BOWDEN, 1980). Secara umum distribusi salinitas di lapisan tercampur permukaan atau mixed layer menunjukkan nilai relatif lebih rendah dari pada di lapisan dalam sedangkan nilai rata-rata salinitas di setiap lapisan kedalaman dari permukaan, lapisan kedalaman 100 m, lapisan 500 m, hingga lapisan 1000 m, berturut turut adalah 34,98 psu; 35,02 psu; 34,81psu; dan 34,09 psu. lapisan mixed layer yaitu lapisan permukaan di Stasiun Selat (St.9) hingga kedalaman 75 m sedangkan di Stasiun Samudera (St.2 dan St.5) masing-masing  hingga kedalaman 100 m dan 190 m, salinitas menunjukkan nilai yang lebih rendah dari pada lapisan dibawahnya. Makin ke lapisan dalam, salinitas air laut makin tinggi dan salinitas maksimum terlihat pada lapisan > 250 m di St. 2 dan > 300 m di St.5. Terlihat pula semakin jauh dari daratan (open ocean),  semakin  dalam  lapisan  mixed  layernya  (mixed  layer  di  St  2  dan  St.  5  lebih  dalam dibandingkan di St.9). Begitu juga dengan nilai salinitas, semakin jauh dari daratan (open ocean), nilai salitas semakin besar (diatas 34 psu).


Pertemuan Laut dan Sungai di Muara/Estuari (Air asin dan Air tawar)
Sedangkan fenomena bertemunya air sungai yang tawar dengan air laut yang asin di muara, difirmankan-Nya, dalam Q. S. Al Furqan: “Dan Dialah yang membiarkan dua laut yang mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi“ (Q. S. 25:53).
Dalam redaksionalnya, Allah menggunakan kata yang berbeda yaitu adanya dinding dan batas yang menghalangi. Ternyata ada sedikit perbedaan prinsip di zona pertemuan air laut dan air tawar ini bila dibandingkan dengan pertemuan dua lautan yang berbeda salinitasnya tersebut di atas.
Mengapa Al Qur’an menyebut “penghalang” ketika berbicara mengenai pemisah antara air tawar dan air asin, tetapi tidak menyebutkan hal itu ketika berbicara mengenai pemisah kedua air laut? Para ilmuwan oseanografi menjelaskan bahwa di muara, tempat bertemunya air tawar (segar) dengan air asin, ditemukan situasi yang berbeda dengan yang terdapat pada tempat bertemunya dua air laut. Penemuan menunjukkan bahwa yang memisahkan air tawar dari air laut di muara adalah zona Pycnocline yang ditandai oleh adanya perbedaan salinitas dan kepadatan yang bertahap dan jelas memisahkan kedua lapisan air tersebut. Pycnocline adalah layer/lapisan yang memisahkan air yang mempunyai kepadatan yang berbeda .

Gambar 2. Perubahan salinitas pada penghalang (zona pemisah) antara air tawar dan air laut
Penghalang (zona pemisah) ini memiliki tingkat kepadatan dan keasinan yang berbeda dari air tawar ke air laut dan sebaliknya. Seperti kita ketahui, bahwa air tawar bertemu air asin melalui beberapa tahapan perubahan, dari air tawar berubah payau hingga kemudian air laut yang asin. (http://faiqun.edublogs.org/2012/01/30/fenomena-salinitas-air-dalam-al-quran diakses tanggal 25 juni 2012)

DAFTAR PUSTAKA
Hestiyanto,Yusman. Geografi SMA Kelas X. Jakarta:Yudistira,2006.
Hutabarat,Sahala dan M.Evans,Stewart. Pengantar Oseanografi. Jakarta:Penerbit Universitas
Indonesia,2008.
Munawir,S.Pd. dkk. Cakrawala Geografi 3. Jakarta: Yudistira,2005.
Ibrahim,I.A. A Brief Illustrated Guide to Understanding Islam. Texas-USA:Darussalam, 1997.
Tjasyono HK, Bayong. Klimatologi Edisi kedua. Bandung:Penerbit ITB, 2004.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar